Malam itu hujan gerimis tipis membasahi Jakarta. Aku berhenti di lampu merah Sudirman, wiper mobil pelan menyapu kaca yang berkabut. Di sebelah kiri, sebuah motor matic putih berhenti sejajar. Dia pakai jaket kulit hitam basah hujan, rambut panjang keluar dari helm.
Matanya menoleh ke arahku—sekilas saja—tapi cukup bikin jantungku berdegup kencang.Lampu masih merah. Dia tersenyum kecil, mengangkat dagu seperti bilang, “apa kabar?” Aku balas angguk, pura-pura lihat spion.
Lampu hijau. Aku gas pelan, dia ikut di samping. Bukan kebetulan. Kalau aku ngegas, dia ngejar. Kalau aku pelanin, dia tetap sejajar. Di lampu merah berikutnya, dia buka visor helm. Wajahnya basah, bibir merah alami, matanya tajam tapi penuh hasrat.
Dia bicara keras melewati suara mesin dan hujan:“Ke mana malam ini?”“Belum tahu. Kamu?”Dia cuma nyengir, lalu tunjuk ke kanan dengan dagu.Sepuluh menit kemudian, kami parkir berdampingan di basement hotel biasa di Thamrin.
Dia turun, buka helm, rambut jatuh basah ke pundak. Aku matiin mesin, turun, dan tiba-tiba jarak kami tinggal satu langkah.“Langsung naik?” tanyanya, suara rendah hampir berbisik.
Aku angguk. Jantung sudah di tenggorokan.Kami masuk lobby kecil dari samping. Lampu redup, musik pelan, bau kopi samar. Resepsionis cowok muda senyum standar.“Selamat malam, Pak, Bu. Ada reservasi?”Dia menjawab santai, “Belum. Kami butuh kamar malam ini.”“King size ya, Bu? Lantai tinggi kalau bisa.
”Aku keluarin kartu, dia pegang lenganku pelan, jempolnya usap pergelangan tanganku. Listrik nyebar ke seluruh badan.“Tenang aja, nanti aku gantiin,” bisiknya, cukup keras buat resepsionis denger.Kami ambil kunci, jalan ke lift. Bahu bersentuhan. Di dalam lift hanya kami berdua. Dia berdiri dekat sekali, aroma parfum vanilla bercampur bau hujan di jaketnya. Tangannya menyentuh punggung tanganku—hanya ujung jari—tapi panasnya langsung menyebar. Aku balas pegang pinggangnya pelan. Dia mendesah kecil, kepalanya miring ke bahuku.
Pintu lift terbuka di lantai 14. Kami hampir tak sempat jalan normal ke kamar. Begitu pintu kamar tertutup, jaket dan helm terlempar sembarangan. Dia dorong aku ke dinding, ciumannya ganas, giginya menarik bibir bawahku. Aku balas tarik pinggangnya keras sampai badan kami nempel rapat.Baju lepas satu per satu, tak sabaran. Kulitnya panas, napasnya cepat. Tangannya meraba ke mana-mana, seolah sudah tahu apa yang dia mau.
Aku angkat dia, kakinya melingkar di pinggangku. Kami jatuh ke kasur hampir bersamaan.Tak ada kata lagi, hanya desahan, erangan, dan suara badan saling bertabrakan. Dia di atas, lalu aku, lalu berganti lagi—tak ada yang mau kalah.Setiap sentuhan makin liar, setiap dorongan makin dalam. Matanya menatap tajam saat kami mendekati puncak.“Bareng ya…” bisiknya parau.Aku gigit bahunya keras saat akhirnya kami meledak bersamaan—tubuh bergetar hebat, napas putus-putus, keringat bercampur.
Setelahnya kami diam, saling peluk erat, denger detak jantung yang perlahan tenang.Pagi menjelang, hujan masih deras. Dari luar, jendela kamar lantai 14 bercahaya kuning hangat di tengah gelap kota. Kaca berembun tebal, titik air mengalir membentuk garis tak beraturan, memburamkan siluet dua orang yang saling dekat di dalam.Mereka diam menatap keluar, atau mungkin saling tatap lewat pantulan. Hujan menetes di kaca, membuat kota di belakang jadi lukisan abstrak—lampu neon meleleh jadi garis warna.Tak ada suara dari dalam yang sampai luar. Hanya hujan yang berbisik, dan sisa panas yang masih terperangkap di kamar itu.
Pagi akan datang. Mereka mungkin berpisah tanpa nomor, tanpa janji. Tapi malam itu, waktu seolah berhenti—hanya ada mereka, hujan, dan hasrat yang membara sampai habis.


Leave a Reply